Tuesday, February 23, 2010
Sebuah arti kata "cukup"
Ya....dan siang itu aku "mengetahui" arti kata itu bagi tetanggaku. Tetanggaku berkunjung ke rumahku. Dia memang tetangga baru. Sekilas....(karena aku belum lama mengenal, namanya juga tetangga baru) aku melihat bahwa kehidupan mereka cukup mapan. Bahkan jauh lebih mapan dari aku. Selain memiliki rumah yang cukup besar (paling tidak 2,5x besar rumahku) dan juga masih memiliki beberapa rumah lagi di komplek perumahan yang lain, 3 buah mobil yang kondisinya cukup terawat, beberapa jenis usaha...perabotan rumah tangga yg jauh lebih mewah dan lengkap dari rumahku...dll.
Pembicaraan kami masih sebatas saling ingin mengenal lebih dalam, tentang pekerjaan, kegiatan sehari2, dan hal2 yang masih sangat umum.
Entah bagaimana pembicaraan kami, tiba2 aku tersentak oleh satu kalimat yang dilontarkan tetanggaku, "Kalau saya sih harus bekerja, karena kalau dirumah saja ga akan cukup seperti ibu (yg dia maksud aku)".
Weits.....apa aku ga salah dengar neh?
Langsung saja aku jawab ," Waduh...kalo saya mengejar istilah "cukup" sebenarnya juga ga cukup,Bu", sambil tersenyum.
Dalam hati aku bertanya, keadaannya sangat jauh berbeda dari aku. Tapi kenapa dia masih merasa belum cukup dibandingkan dengan aku?????
Ingin aku berkata padanya, "Bu, bersyukurlah dengan apa yang anda miliki.Anda sudah memiliki begitu banyak berkat yang orang lain tidak miliki. Apalagi anda membandingkannya dengan saya. Sungguh, seharusnya anda bersyukur."
Tapi semua perkataan itu hanya kusimpan dalam hati.
Sang Juara

Seorang anak kecil berusia 9 th, baru saja turun dari panggung. Dia mengikuti lomba menyanyi untuk kategori anak2. Suaranya sungguh merdu. Tidak sedikit dari antara penonton yang memberikan sambutan meriah, bahkan bertepuk tangan sambil berdiri untuk anak ini. Sebut saja dia Doni.
Setiba di belakang panggung, banyak orang memberi ucapan selamat pada Doni..." Wah, bagus, bagus!!! Penampilanmu keren sekali Don!", kata mereka.
Doni hanya tersenyum lega dan menjawab,"Terima kasih,ya!"
Doni segera berlari ke arah ibunya, yang sedang duduk dengan tegang. Sang ibu hanya terdiam ketika Doni menghampirinya, bahkan tersenyum pun tidak. Tatapan matanya tetap serius ke arah panggung.
Sekarang tibalah saatnya pengumuman pemenang. Dengan hati berdebar2 Doni menunggu, dia sangat cemas. Begitu pula sang ibu. Bahkan saat Doni meminta minum sang ibu berkata, "Nantilah Don..."
Dan ketika dewan juri mengumumkan siapa juara lomba kali ini, ternyata Doni berada di urutan ke 3. Doni berteriak girang. Dia tak menyangka bahwa dia dapat meraih juara ke 3 , padahal lomba kali ini pesertanya sangat banyak, mencapai 100 orang, yang dikirim oleh sekolah-sekolah se-kabupaten. "Yeeee...!!! Hore!! Yess!!..Yess!!", teriak Doni.
Tapi belum terluapkan seluruh kegembiraan Doni, sang ibu langsung membentak Doni, "Hai, ngapain kamu bangga jadi juara 3? Seharusnya kamu dapat juara 1 baru boleh bangga. Apa itu juara 3?? Sama saja bukan juara. Kamu pasti malas-malasan berlatih. Lihat saja, nanti mama tanya sama guru vokalmu, apa kamu itu serius berlatih atau tidak".
Doni langsung terdiam. Dia sangat sedih. Tapi dia tidak dapat berbuat apa2. Ibunya sangat marah.
Pak Budi yang mengetahui hal itu, langsung menghampiri mereka. Beliau adalah kepala sekolah di sekolah Doni. "Bu, Doni selama ini sangat rajin belajar di sekolah. Termasuk dalam hal belajar menyanyi. Suaranya sangat bagus. Mungkin memang anak yang lain lebih bagus suaranya, tapi bukan berarti Doni malas berlatih", kata Pak Budi.
Ibu Doni menjawab, "Bapak tidak tahu, dia sudah 2x tidak datang latihan vokal dengan alasan sedang batuk. Dia pasti terlalu banyak makan gorengan sehingga dia menjadi batuk. atau mungkin itu hanya alasannya saja supaya tidak perlu latihan."
Pak Budi tersenyum, "Bu, yang saya tahu, Doni tidak pernah mau makan gorengan atau es. Setiap kali ditawari temannya, dia akan menolaknya dengan alasan 'nanti dimarahi mamaku'. Sudahlah Bu,Doni sudah melakukan yang terbaik."
Ibu Doni nampak semakin marah dan berkata, " Bagi saya, juara 3 tetap saja bukan juara. Dan saya tidak mengijinkan anak saya ikut lomba antar sekolah lagi." Pak Budi hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan Doni hanya terdiam, tidak berani menjawab,hanya saja air matanya nampak menggenang di sudut matanya..tanpa berani menetes di pipinya.
...........
Hal apa yang dapat kita ambil dr cerita ini? Bagiku, sang ibu ini tidak dapat menghargai usaha si anak. Sesuatu yang nampak luar biasa bagi orang lain (Doni memiliki suara bagus dan memang sudah menampilkan yang terbaik), bagi orang 2 tertentu yang memandang dr sudut berbeda, itu bukan apa2. Tapi apakah tidak lebih baik bila kita terlebih dahulu menghargai setiap usaha yang telah dilakukan, terlepas dr hasilnya baik atau buruk?
Sekaleng susu
Ketika sudah dekat di meja dimana susu itu hrs diletakkan, dia sedikit bingung bagaimana caranya meletakkan kaleng susu itu karena letaknya agak tinggi. Aku berusaha menolongnya..tapi karena tanganku masih penuh..aku segera meletakkan barang bawaanku di atas meja. Tapi belum sampai aku meletakkan barangku...anakku sudah menjatuhkan kaleng susu itu..dan hampir semua susu yang ada di dalamnya tumpah ke lantai.
Waaaaaaaaaaaaa......aku sangat marah. Aku menjerit dan anakku langsung ku bawa menyingkir dari situ sambil aku marahin, "Sudah mami bilang tadi jangan bawa kaleng susu...kamu ga mau dengar. Mami bilang suruh hati2...tapi kamu sudah menjatuhkannya ke lantai. Lihat!! Sekarang semua susu itu tumpah. Kamu mau minum apa hari ini?" Anakku hanya terdiam, menunduk sambil melihat tumpahan susu itu. ...............
Aku menghela nafas panjang. Oh..maafkan mami Nak. Aku sudah menyakitimu.
Aku seharusnya melihat niat baiknya. Toh jika susu itu tumpah sebenarnya bukan salahnya. Dia masih terlalu kecil. Dia hanya ingin membantu, dan dia sebenarnya rajin. Tapi hanya karena niat baik itu terbungkus dalam peristiwa yang tidak diinginkan...niat baik itu jd tidak terlihat.
Apalah artinya sekaleng susu jika dibandingkan dengan niatnya membantu aku? Aku jd merenung....kadang kita pun sering berperilaku seperti itu. Kita tidak bisa melihat niat baik orang lain saat yang terjadi justru hal2 yang buruk.
Semoga aku bisa lebih bijaksana lagi...
Maafkan mami, Nak...
Pantang Menyerah
Awalnya, aku tidak peduli….sampai aku melihat sesuatu yang menurutku ganjil.
Oh Tuhan…Kakinya tidak menapak pada “pancatan” (aku ga tahu apa namanya) sepeda motor. Kakinya hanya menggantung kecil ….kira2 hanya berjarak 40cm dr pangkal pahanya. Diujung kaki itu, dikenakan sebuah sepatu yg bagus..bersih…dan arah sepatu itu terbalik…ujung jari yg seharusnya ke depan…ini justru ke belakang.
Sejenak aku merasa miris. Aku kagum dengan semangat bapak itu. Walau keadaannya seperti itu, dia tetap semangat bekerja. Dia tidak meminta-minta. Dia tidak berpakaian kusut supaya dikasihani, tp justru berpakaian rapi dan bersepatu. Dan dia bekerja sampai semalam ini (pkl 21.30)
Aku terus menatap bapak itu sampai hilang dr pandanganku….
Aku merenung. Adakah aku lebih semangat dr bapak itu? Aku lebih sempurna secara fisik. Lebih banyak hal yg bisa aku lakukan. Tapi sampai seberapa mampu aku mengolah segala yang aku miliki. Sering kali aku memoles diri supaya dikasihani…menempatkan diri sebagai sosok yang menderita..memiliki persoalan hidup terberat…memasang muka masam…dan putus asa untuk berusaha.
Tapi…seorang bapak yang tidak kukenal …malam ini telah mengajar aku … bahwa apapun keadaan diri kita, jgn kita berputus asa. Semua ada jalan…asal kita mau berusaha. Teruslah bersemangat.. Tampilah sebagai orang yang pantas dihargai..bukan dikasihani.
Terima kasih Tuhan…
Hati yang bersih

Suatu kali saya menemukan kutipan indah berikut, “Andai rumah saya sangat bersih dan segala sesuatu tertata rapi, tetapi tak ada kasih di situ, maka saya adalah seorang pembantu, bukan ibu. Andai saya punya waktu untuk mengelap, mengepel, mendekorasi rumah dan seisinya, tetapi tak punya waktu untuk menunjukkan kasih, maka anak-anak hanya belajar tentang kebersihan, bukan kesalehan. Dulu saya pikir keberhasilan seorang ibu dilihat dari bagaimana ia menata rumah. Namun, kini saya tahu bahwa ukurannya adalah pada bagaimana anak-anak belajar tentang kasih.”
Bertumbuhnya seorang pribadi selalu ditopang oleh kehadiran dan dukungan seorang ibu, atau seorang lain yang berperan sebagai ibu baginya. Bagaimana berkata-kata, mengampuni sesama, berbagi serta menunjukkan kasih, juga memercayai Tuhan, kebanyakan dipelajari orang dari ibu. Maka, kiranya perhatian ibu bukan mengatur urusan rumah jasmani saja. Yang jauh lebih penting adalah menata fondasi hidup seorang anak, yang kelak bisa mengubah dunia dengan cara yang menyenangkan Allah.
Rumah bersih tak menjamin hati seketika bersih. Namun ibu penuh kasih terus membentuk hidup penuh kasih
By: agustina W.
Paimin, inspirasi di ujung petang
Beberapa hari ini aku memang cukup sering mampir ke gerobak tenda angkringan milik beliau sepulangku glidig. Tentu saja masih dengan peralatan lengkap perangku; tas ransel butut berisi koran, buku dan laptop dan tas kecil yang nyaris selalu kubawa sebagai tempat mengamankan handphone dan dompet.
Tidak ada alasan khusus aku memilih angkringan milik Pak Paimin ini. Benar-benar mengandalkan intuisi dan dan kata hati saja, mengingat ada puluhan gerobak angkringan yang kulewati dalam belasan kilometer perjalanan pulang ku ke rumah. Dan, tampaknya aku akan menjadi pelanggan setia angkringan Pak Paimin. Disana ada obrolan yang hangat dengan segelas wedang jahe panas kesukaanku, juga kepolosan bicara orang desa yang konon nyaris saja tidak menyelesaikan sekolah dasar kalau saja tidak ada bulik yang membiayai sekolahnya dulu. Alasan lain dan terutama, karena semangatnya yang menyala, kentara sekali dari cerita-ceritanya yang penuh semangat.
Dalam usianya menuju senja, tidak sedikitpun beliau menunjukkan keletihan untuk menjalani hidup yang menurutnya semakin berat saja. Keterbatasan secara fisik tidak pernah mengalahkan semangatnya untuk terus berjuang. "Aku mas.. mbok ya o mung duwe sikil siji, ora gelem kalah karo wong-wong sing wutuh sikile. Dikon macul aku sanggup. Dadi tukang bangunan yo jeh kuat, malah jeh akeh sik njaluk. Dikon menek wit kelopo yo tak tandangi. Wis.. saiki sampeyan ngomong wae aku dikon ngopo? Mesthi iso tak tandangi, Mas", tantangnya.
Aku hanya membalas cerita dan tantangan beliau dengan senyuman penuh kekaguman.
Jujur saja, aku sedikit iri hati melihat sosok laki-laki paruh baya ini. Semangatnya telah mengguratkan warna kemudaan di garis wajahnya. Rambutnya memang telah beruban nyaris seluruhnya, tapi semangatnya tak pernah luntur termakan usia. Sesekali aku merasa ditonjok-tonjok kalau lagi-lagi dia menceritakan cacat fisik yang tak pernah menghalanginya untuk terus berkarya dan berjuang. Tidak sepertiku yang lebih sempurna tetapi terlalu lembek dan mudah menyerah.
Cerita hidup Pak Paimin ini memang sangat berliku. Masa kecilnya sangatlah berat. Lahir dari keluarga yang tidak mampu, beliau telah ikut membantu mencari makan untuk keluarga ketika beliau masuk sekolah dasar. Bapaknya hanya buruh tani, sementara ibunya dirumah mengurusi Paimin kecil dan saudara-saudaranya. Paimin kecil mempunyai 8 saudara. Paimin kecil merupakan anak ke-2 dari sembilan bersaudara.
Dulu, sebelum berangkat sekolah Paimin kecil jarang sekali sarapan. Berbeda dengan anak-anak zaman sekarang, katanya. Kalaupun ada sarapan, dia harus berbagi sarapan itu dengan kakak dan tujuh adik-adiknya. Sepulang sekolah, Paimin kecil tidak langsung kembali ke rumah. Bersama teman-teman dan kakaknya, Paimin kecil langsung bergegas ke hutan atau kemanapun dimana dia bisa mendapatkan sesuatu untuk dimakan.
"Aku paling seneng golek jambu mente, Mas. Sueger tenan yen bali sekolah trus mangan jambu mente. Mengko adhi-adhiku biasane dak gawake gedhang opo telo opo tebu. sak ketemune, Mas. Dadi tekan omah simbok wis ra repot", kisahnya penuh kebanggaan. Dan pengalaman ini pulalah yang kemudian membawanya pada malapetaka.
Suatu siang, seperti biasanya, Paimin kecil bersama kawan dan kakaknya pergi ke hutan mencari makanan. Entah karena mereka datang terlambat atau karena sebab yang lain, mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cari. Tak satupun buah mereka dapatkan. Kemudian mereka sepakat untuk mengambil tebu yang telah tersusun rapi di kereta lori milik pabrik gula madukismo, bantul.
Mereka berlarian mengerjar lori yang segera akan masuk pabrik. Layaknya seorang lelaki kecil yang terlalu bersemangat, Paimin kecil ingin bergelantung pada lori yang berjalan itu. Tangannya telah meraih besi lori. Malangnya, kaki yang seharusnya menumpu justru terpeleset jatuh tepat di atas rel lori. Tak tertolong. Kaki kirinya terlindas kereta lori beberapa kali sampai sang kakak menariknya. Dan, seperti yang kubayangkan, kaki Paimin kecil benar-benar putus tepat di batas lututnya. Paimin kecil hanya bisa menangis sekuatnya menahan sakit yang kepalang waktu itu.
Namun ternyata, pengalaman itu tak meluluhkan semangat hidupnya. Baginya hidup adalah sebuah medan tempur yang harus dimenangkan. "Urip kuwi koyo perang, Mas. Yen ora kendel, ora wani maju, yo.. mati wae. Ra perlu mikir menang po kalah, sik penting slamet sik. iyo to, Mas?"
Lagi-lagi aku serasa tertohok dan lagi-lagi hanya bisa tersenyum, memandangi Pak Paimin penuh kagum. Ku sruput wedang jahe didepanku yang telah mulai menghangat. Pas sekali rasanya, dan pas sekali untuk sejenak mengalihkan pandangku dari tatapan Pak Paimin yang tajam penuh kekuatan.
Sejenak aku mengingat kalau aku juga punya falsafah hidup yang sama tentang perang yang harus dimenangkan. Tapi apalah artinya perangku dibandingkan perang Pak Paimin ini. Aku bukan prajurit yang tangguh ternyata.
Kini, Perjuangan beliaupun belumlah rampung. Membesarkan dan mengentaskan tiga anak menjadi perjuangannya yang aktual kini. Seorang anak perempuannya yang tertua baru saja mendapat pekerjaan sebagai pelayan toko di daerah patangpuluhan yogyakarta. Anaknya yang nomor dua, juga seorang wanita, diberinya modal gerobak dan sejumlah uang untuk membuka angkringan di lokasi berbeda tak jauh dari tempatnya mangkal sekarang ini di daerah brajan, bantul. Sementara anak lelaki terakhirnya baru mengenyam pendidikan SMP kelas 3. Bukanlah pekerjaan yang mudah tentunya untuk beliau.
Pak Paimin hidup ditemani seorang istri yang ternyata adalah istri keduanya. Istri pertamanya meninggal beberapa bulan setelah melahirkan anaknya yang ketiga sekian tahun silam lalu. Bahu-membahu, mereka kini mengabdikan hidup untuk anak-anak mereka.
Pagi hari sampai sore, Pak Paimin bekerja sebagai buruh bangunan atau apa saja yang bisa Beliau kerjakan dan menghasilkan uang. Sementara sang istri mulai membuka warung angkringan pukul 12.00 siang. Menjelang sore selepasnya bekerja, Pak Paimin menggantikan istrinya untuk menjaga angkringan sampai jam 10.00 malam. Benar-benar pejuang tangguh tak mengenal lelah. Liku dan terjal telah beliau alami. Manis dan pahit pun tlah dikecap.
Ah.. serasa terhipnotis. Sudah lebih dari 2 jam aku mangkal di angkringan Beliau. Tentu saja bukan perhentian yang sia-sia, justru penuh makna dan inspirasi. Meski menarik sekali perjumpaan itu, dengan berat hati aku harus berpamit.
Sampun, Pak Paimin. Sekul kalih, sate telur setunggal, gorengan kalih, jahe setunggal.
"Enem setengah", jawabnya.
Kuberikan tujuh ribu, kutinggalkan limaratus sisanya dan aku berpamitan.
Menuju motor aku baru teringat; seandainya bisa kumiliki, ingin kubeli semangat mu itu, Pak Paimin. Terimakasih telah mengingatkan agar selalu bersemangat untuk memenangkan perangku sendiri.
Thanks to: Willy
Sebelum kamu mengeluh
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.
Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam
hidupnya.
Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda.
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman
hidup
Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat
Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya
mandul
Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak
mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yag tinggal di jalanan
Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan
Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka
mempunyai pekerjaan seperti anda
Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa,,,
Kita semua menjawab kepada Tuhan
Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan mengucap syukurlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !
