Welcome

Sadar atau tidak, setiap perjumpaan akan membawa perubahan. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari perjumpaan2 kita, dan membawa kita ke arah yang semakin baik. Tuhan memberkati

Kata kunci

Tuesday, February 23, 2010

Paimin, inspirasi di ujung petang

Paimin namanya, seorang lelaki paruh baya dengan semangat hidup luar biasa. Menjadi sangat luar biasa karena dia menjalani lebih dari empat puluh tahun hidupnya hanya dengan satu kaki. Aku bertemu dengan beliau petang ini di sebuah angkringan sederhana tapi teduh dan nyaman miliknya.

Beberapa hari ini aku memang cukup sering mampir ke gerobak tenda angkringan milik beliau sepulangku glidig. Tentu saja masih dengan peralatan lengkap perangku; tas ransel butut berisi koran, buku dan laptop dan tas kecil yang nyaris selalu kubawa sebagai tempat mengamankan handphone dan dompet.

Tidak ada alasan khusus aku memilih angkringan milik Pak Paimin ini. Benar-benar mengandalkan intuisi dan dan kata hati saja, mengingat ada puluhan gerobak angkringan yang kulewati dalam belasan kilometer perjalanan pulang ku ke rumah. Dan, tampaknya aku akan menjadi pelanggan setia angkringan Pak Paimin. Disana ada obrolan yang hangat dengan segelas wedang jahe panas kesukaanku, juga kepolosan bicara orang desa yang konon nyaris saja tidak menyelesaikan sekolah dasar kalau saja tidak ada bulik yang membiayai sekolahnya dulu. Alasan lain dan terutama, karena semangatnya yang menyala, kentara sekali dari cerita-ceritanya yang penuh semangat.

Dalam usianya menuju senja, tidak sedikitpun beliau menunjukkan keletihan untuk menjalani hidup yang menurutnya semakin berat saja. Keterbatasan secara fisik tidak pernah mengalahkan semangatnya untuk terus berjuang. "Aku mas.. mbok ya o mung duwe sikil siji, ora gelem kalah karo wong-wong sing wutuh sikile. Dikon macul aku sanggup. Dadi tukang bangunan yo jeh kuat, malah jeh akeh sik njaluk. Dikon menek wit kelopo yo tak tandangi. Wis.. saiki sampeyan ngomong wae aku dikon ngopo? Mesthi iso tak tandangi, Mas", tantangnya.
Aku hanya membalas cerita dan tantangan beliau dengan senyuman penuh kekaguman.

Jujur saja, aku sedikit iri hati melihat sosok laki-laki paruh baya ini. Semangatnya telah mengguratkan warna kemudaan di garis wajahnya. Rambutnya memang telah beruban nyaris seluruhnya, tapi semangatnya tak pernah luntur termakan usia. Sesekali aku merasa ditonjok-tonjok kalau lagi-lagi dia menceritakan cacat fisik yang tak pernah menghalanginya untuk terus berkarya dan berjuang. Tidak sepertiku yang lebih sempurna tetapi terlalu lembek dan mudah menyerah.

Cerita hidup Pak Paimin ini memang sangat berliku. Masa kecilnya sangatlah berat. Lahir dari keluarga yang tidak mampu, beliau telah ikut membantu mencari makan untuk keluarga ketika beliau masuk sekolah dasar. Bapaknya hanya buruh tani, sementara ibunya dirumah mengurusi Paimin kecil dan saudara-saudaranya. Paimin kecil mempunyai 8 saudara. Paimin kecil merupakan anak ke-2 dari sembilan bersaudara.

Dulu, sebelum berangkat sekolah Paimin kecil jarang sekali sarapan. Berbeda dengan anak-anak zaman sekarang, katanya. Kalaupun ada sarapan, dia harus berbagi sarapan itu dengan kakak dan tujuh adik-adiknya. Sepulang sekolah, Paimin kecil tidak langsung kembali ke rumah. Bersama teman-teman dan kakaknya, Paimin kecil langsung bergegas ke hutan atau kemanapun dimana dia bisa mendapatkan sesuatu untuk dimakan.

"Aku paling seneng golek jambu mente, Mas. Sueger tenan yen bali sekolah trus mangan jambu mente. Mengko adhi-adhiku biasane dak gawake gedhang opo telo opo tebu. sak ketemune, Mas. Dadi tekan omah simbok wis ra repot", kisahnya penuh kebanggaan. Dan pengalaman ini pulalah yang kemudian membawanya pada malapetaka.

Suatu siang, seperti biasanya, Paimin kecil bersama kawan dan kakaknya pergi ke hutan mencari makanan. Entah karena mereka datang terlambat atau karena sebab yang lain, mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cari. Tak satupun buah mereka dapatkan. Kemudian mereka sepakat untuk mengambil tebu yang telah tersusun rapi di kereta lori milik pabrik gula madukismo, bantul.

Mereka berlarian mengerjar lori yang segera akan masuk pabrik. Layaknya seorang lelaki kecil yang terlalu bersemangat, Paimin kecil ingin bergelantung pada lori yang berjalan itu. Tangannya telah meraih besi lori. Malangnya, kaki yang seharusnya menumpu justru terpeleset jatuh tepat di atas rel lori. Tak tertolong. Kaki kirinya terlindas kereta lori beberapa kali sampai sang kakak menariknya. Dan, seperti yang kubayangkan, kaki Paimin kecil benar-benar putus tepat di batas lututnya. Paimin kecil hanya bisa menangis sekuatnya menahan sakit yang kepalang waktu itu.

Namun ternyata, pengalaman itu tak meluluhkan semangat hidupnya. Baginya hidup adalah sebuah medan tempur yang harus dimenangkan. "Urip kuwi koyo perang, Mas. Yen ora kendel, ora wani maju, yo.. mati wae. Ra perlu mikir menang po kalah, sik penting slamet sik. iyo to, Mas?"

Lagi-lagi aku serasa tertohok dan lagi-lagi hanya bisa tersenyum, memandangi Pak Paimin penuh kagum. Ku sruput wedang jahe didepanku yang telah mulai menghangat. Pas sekali rasanya, dan pas sekali untuk sejenak mengalihkan pandangku dari tatapan Pak Paimin yang tajam penuh kekuatan.

Sejenak aku mengingat kalau aku juga punya falsafah hidup yang sama tentang perang yang harus dimenangkan. Tapi apalah artinya perangku dibandingkan perang Pak Paimin ini. Aku bukan prajurit yang tangguh ternyata.

Kini, Perjuangan beliaupun belumlah rampung. Membesarkan dan mengentaskan tiga anak menjadi perjuangannya yang aktual kini. Seorang anak perempuannya yang tertua baru saja mendapat pekerjaan sebagai pelayan toko di daerah patangpuluhan yogyakarta. Anaknya yang nomor dua, juga seorang wanita, diberinya modal gerobak dan sejumlah uang untuk membuka angkringan di lokasi berbeda tak jauh dari tempatnya mangkal sekarang ini di daerah brajan, bantul. Sementara anak lelaki terakhirnya baru mengenyam pendidikan SMP kelas 3. Bukanlah pekerjaan yang mudah tentunya untuk beliau.

Pak Paimin hidup ditemani seorang istri yang ternyata adalah istri keduanya. Istri pertamanya meninggal beberapa bulan setelah melahirkan anaknya yang ketiga sekian tahun silam lalu. Bahu-membahu, mereka kini mengabdikan hidup untuk anak-anak mereka.

Pagi hari sampai sore, Pak Paimin bekerja sebagai buruh bangunan atau apa saja yang bisa Beliau kerjakan dan menghasilkan uang. Sementara sang istri mulai membuka warung angkringan pukul 12.00 siang. Menjelang sore selepasnya bekerja, Pak Paimin menggantikan istrinya untuk menjaga angkringan sampai jam 10.00 malam. Benar-benar pejuang tangguh tak mengenal lelah. Liku dan terjal telah beliau alami. Manis dan pahit pun tlah dikecap.

Ah.. serasa terhipnotis. Sudah lebih dari 2 jam aku mangkal di angkringan Beliau. Tentu saja bukan perhentian yang sia-sia, justru penuh makna dan inspirasi. Meski menarik sekali perjumpaan itu, dengan berat hati aku harus berpamit.

Sampun, Pak Paimin. Sekul kalih, sate telur setunggal, gorengan kalih, jahe setunggal.
"Enem setengah", jawabnya.
Kuberikan tujuh ribu, kutinggalkan limaratus sisanya dan aku berpamitan.

Menuju motor aku baru teringat; seandainya bisa kumiliki, ingin kubeli semangat mu itu, Pak Paimin. Terimakasih telah mengingatkan agar selalu bersemangat untuk memenangkan perangku sendiri.


Thanks to: Willy

No comments:

Post a Comment