Saturday, February 27, 2010
Makanan kita
Friday, February 26, 2010
Jangan membiarkan anak anda berenang sendirian
Ketika sedang asyik menemani dia...aku melihat seorang anak kecil (hampir sama besar dengan anakku) yang juga sedang berenang tapi tanpa didampingi siapapun. Kebetulan hari ini kolam renang sangat ramai oleh anak2 TK, jadi memang banyak anak2 bermain tanpa pengawasan. Si anak ini kulihat sedang menyelam... Aku sama sekali tidak berpikir jauh karena aku juga harus mengawasi anakku yang masih sering terjatuh saat berjalan di air. Anak2 lain pun banyak yang sedang saling berlomba siapa yang paling lama bisa menahan nafas di dalam air. Jadi aku benar2 tidak berpikir hal yang lain.
Anakku berjalan mendekati pinggir kolam, sekaligus semakin dekat dengan si anak tadi. Tiba2 aku merasa curiga. Tangan anak itu berusaha melambai-lambai...badannya terus berada di dalam air..lalu mengambang...
Oh Tuhan...ternyata anak itu tenggelam!!!!!!!!!!!!!!! Aku segera mengangkat dia ke tepian kolam, bersamaan dengan itu ibu dari anak ini berteriak-teriak, "Tolong mbak...tolong ...anak saya."
Setelah berada di tepi kolam aku segera memukul-mukul punggungnya, karena pasti dia sudah menelan begitu banyak air. Dia tidak dapat menangis. Mukanya pucat, dan aku sama sekali tidak dapat berkata-kata. Aku hanya bisa berusaha melakukan apa yang aku bisa.
Setelah si anak dibawa menjauh dari kolam oleh ibunya..aku baru mendekati anakku lagi. Sambil bermain, aku mengamati anak itu. Dia sangat ketakutan dan sudah bisa menangis. Di pinggir kolam itu, nampak serombongan ibu-ibu yang nampaknya memang satu kelompok dengan ibu si anak tadi.
Kalau boleh aku menyimpulkan, si ibu mungkin terlalu asyik berbincang-bincang dengan teman2nya sambil menggendong anaknya yang kira2 masih berusia 1th. Si ibu tidak menyadari bahwa anaknya tenggelam. Dan lagi, jarak antara kolam dan tempat ibu itu berbincang-bincang agak jauh.
Hm....ini suatu pelajaran bagiku. Jangan pernah meninggalkan anak anda berenang sendirian tanpa pengawasan, apalagi dia masih balita. Sungguh sangat berbahaya. Bukankah lebih menyenangkan bisa bermain bersama dengan anak di dalam kolam? Tapi jika memang anda tidak bisa bermain bersama...jangan sampai lengah mengawasinya. Tetaplah berada di dekatnya, karena anak anda akan lebih aman.
Thursday, February 25, 2010
Kegagalan
Saat kita mengalami kegagalan ,sering kita melempar kesalahan pada pihak lain.
Tapi ingatlah...bahwa suatu hasil yang kita dapat, itu adalah keputusan kita. Apapun dapat terjadi dan berbagai macam hal bisa mempengaruhi. Tapi tentang apa yang akhirnya kita lakukan, itu merupakan keputusan kita sendiri. Jika anda gagal karena mengikuti saran seorang teman..itu bukan berarti teman anda yang salah. Tapi anda sendiri!!
Berbicara vs berbuat
Sebuah ilustrasi sederhana...
Ketika pulang dari bekerja, sepasang suami istri mendapati bahwa rumahnya sangat berantakan. Mainan anak2 bertebaran dimana-mana, lantai yang kotor, dan sisa2 makanan yang belum dibereskan.
Sang istri langsung berteriak memanggil pembantunya yang sedang bermain-main dengan anak suami istri ini, katanya "Yem!!! Sini! Kamu ini, apa kerjamu seharian? Kenapa mainan ini tidak dibereskan? Kenapa sisa makanan bertebaran dimana-mana?......" dst.
Sang suami tidak banyak bicara. Dia langsung mengambil mainan yang bertebaran itu, memasukkan kembali ke dalam kotak, mengambil sebuah sapu, dan mulai membersihkan sisa2 makanan di lantai.
Pada saat sang istri selesai berbicara, rumah sudah nampak lebih bersih dan enak di pandang. Mungkin tinggal mengepel lantai dan semua akan nampak lebih baik.
Manakah yang lebih bijaksana?
Berbicara

Ketika Anda berbicara mengenai seseorang atau tentang seseorang, Anda harus berbicara seolah-olah mereka ada didalam ruangan yang sama dengan Anda. Telinga mereka yang hari ini Anda ajak bicara sebenarnya tersambung ke mulut yang bisa mengirimkan pesan apapun esok harinya. (William 'Biddy' Allen)
Berhati-hatilah ketika anda berbicara tentang orang lain, terutama tentang keburukan mereka. Atau lebih baik anda menyimpannya untuk diri anda sendiri. Sering kali kita tergoda untuk menggosipkan orang bahkan lebih parahnya kita menambahkan cerita supaya terdengar lebih heboh. Selain merugikan orang yang anda bicarakan, tanpa anda sadari anda telah menceburkan diri anda dalam masalah.
Menghakimi
Ketika kita sudah berpikir negatif terhadap orang lain, tidak jarang segala sesuatu yang dilakukan oleh orang tersebut selalu nampak tidak baik bagi kita. Padahal kita sebenarnya tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah lebih baik kita berpikir positif? Walau mungkin yang nampak di depan mata adalah keadaan yang buruk.
Untuk istriku tercinta
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... aku harus menyediakan makan untuknya.
Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.
Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan..... di sanalah sumber 'masalah'nya ... sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!
Oh...Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan main anny a, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:
"Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya .. Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimp anny a di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya ... Saya minta maaf Dad ... "
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuh anny a. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal....
Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Dad".
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadir anny a karena ia tidak punya ibu......
Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang... Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan .... tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.
Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. . Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : "Maaf, Dad". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alas anny a melakukan itu.
Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?
Jawab anny a, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk mommy.....".
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. .... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?"
Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimk anny a sekaligus".
Setelah mendengar penjelas anny a ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan ....
Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......
'Mommy sayang',
Aku sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut.. Tapi kamu tidak ada, jadi akur tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.
Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Mommy, setiap hari aku melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Aku pikir kami berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kami berdua, ku rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga aku dapat melihat wajahmu dan ingatmu? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ....
Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari padanya. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.
Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebih anny a, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya.
Thanks 4 Mira yg mengirim cerita ini
Cintaku di Fesbuk membawa petaka
Dia anak laki2...kuliah di salah satu universitas disana. Msh jomblo. Dan dari iseng2 kenalan di FB dgn seorg cewek, akhirnya jadianlah mereka. Cintaku di dunia maya ceritanya.
Tibalah saatnya mereka bertemu muka untuk pertama kalinya. Si cewek di ajak ke kost si cowok. Dan ternyata kesannya tidak mengecewakan. Mereka pun sepakat untuk pergi makan.
Saat hendak berangkat, si cewek berkata "lho, mas..kamu ga mandi dulu?"
cowok:"ga lah..makan aja kan?"
cewek :"mandi sana dululah..masa pergi ke luar kamu belum mandi"
Akhirnya si cowok pergi mandi dan kunci sepeda motornya dititipkan ke si cewek.
Saat si cowok keluar dari kamar mandi......betapa terkejutnya dia. Kamarnya kosong...barang2nya hilang, termasuk sepeda motor, handphone, laptop, bahkan sepatu,dompet dan juga barang2 lain yg nampaknya msh bisa dibawa...semua hilang bersama si cewek itu.
Mampus lah!!!! Kena tipu deh!!!!
Ternyata si cewek ini pencuri....
Si cowok pun akhirnya mudik dengan lemas...miskin seketika...
Oh...cintaku di fesbuk membawa petaka.
Teman2..berhati2lah menambah teman dalam fesbuk anda. Jika anda memang tidak kenal, sebaiknya berpikir 2x sebelum anda menambahkannya pd daftar teman anda.
Ini hanya satu contoh kasus yg terjadi..
Potensi Diri

Beberapa hr yg lalu,spt biasa aku menemani anakku melihat tv, acara di playhouse disney, Dibo the gift dragon.
Diceritakan bhw Cro adl seseorg yg tidak punya keberanian. Dia sgt penakut. Maka,Cro mempunyai harapan ingin menjadi pahlawan pemberani. Cro memanggil Dibo dan mengungkapkan harapannya itu. Dibo kemudian memberi hadiah pd Cro seperangkat baju prajurit. Ada helm peran,ada tombak,dan jg perisai. Stlh memberi hadiah, Dibo kmdn pergi mencari makan krn perutnya lapar.
Kemudian muncullah bunyi2an yg menyeramkan..dan muncul sebuah bayangan mengerikan seperti monster. Cro dgn gagah berani mencari tahu asal bunyi2 itu dan mencoba menghampiri bayangan menyeramkan. Cro membimbing teman2nya ke tempat yg aman. Cro telah menjelma sbg sosok pemberani dan pahlawan bg teman2nya.
Akan tetapi,saat Cro akan menghadapi bayangan monster itu,semua pelengkapan perangnya lenyap,menghilang. Cro menjadi tdk percaya diri. Dia mjd takut. Tapi melihat teman2nya takut dan dia ingin melindungi teman2nya,dia maju mendekati bayangan itu. Dia yakin bhw dia bisa menghadapinya. Cro menantang si bayangan.
Lama2 makin nampak bhw bayangan itu hanyalah pepohonan yg diujungnya tersangkut topeng monster2an milik Dibo. Dan bunyi2an menyeramkan td hanya bunyi perut lapar Dibo,krn Dibo adl dinosaurus,maka bunyi perutnya begitu keras.
Bagiku,ini memberi pesan moral,bhw kitapun mgkn spt Cro. Kita memiliki byk kemampuan dan potensi dlm diri kt,tp sering kt tdk yakin akan kemampuan kt,sering tdk percaya diri,shg kt menganggap bhw kita tdk mampu. Yg kedua,mgkn di depan kita byk hal menakutkan,menyeramkan,mas
Wednesday, February 24, 2010
Perkawinan
"Perkawinan tidak hanya persatuan jiwa dan pelukan yang menggairahkan; perkawinan juga membutuhkan makan tiga kali sehari; berbagi beban kerja; dan ingat untuk membuang sampah." :-) ~ Joyce Brothers (1927 - ), psikolog
Banyak pernikahan yang carut marut hanya karena hal kecil seperti pasangan yang malas untuk membuang sampah, malas bangun pagi, atau justru pasangan yang hanya melulu mau dilayani tanpa mau tahu kesibukan dan kelelahan pasangan.Pernikahan mengandung begitu banyak konsekuensi..itu yang sering kali kurang disadari.
Saya adalah sebuah pensil

Saya adalah sebuah pensil kecil ditangan Tuhan, yang sedang menulis surat cinta pada dunia.
(Mother Teresa)
Jika kita masing2 menghayati hal ini, maka yang kita lakukan setiap hari adalah memberi cinta pada sesama, berbuat kebaikan, melayani orang lain, bukannya memperburuk keadaan atau merampas hak orang lain...
Dan akhirnya yang ada di sekitar kita adalah kebahagiaan.
Buatlah orang lain merasa lebih baik setelah bertemu dengan Anda
Buatlah orang lain tersenyum, bersukacita, tertawa, kembali bersemangat, tabah menghadapi kenyataan hidup. Buatlah orang lain merasa dirinya berarti dan berharga.
Ketika kita mencoba membuat orang lain lebih berbahagia, otomatis kita pun akan merasakan kebahagiaan. Jika kita mau lebih sedikit peka, kita tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk membuat orang lain merasa lebih baik saat bertemu dengan kita.
Tuesday, February 23, 2010
Sebuah arti kata "cukup"
Ya....dan siang itu aku "mengetahui" arti kata itu bagi tetanggaku. Tetanggaku berkunjung ke rumahku. Dia memang tetangga baru. Sekilas....(karena aku belum lama mengenal, namanya juga tetangga baru) aku melihat bahwa kehidupan mereka cukup mapan. Bahkan jauh lebih mapan dari aku. Selain memiliki rumah yang cukup besar (paling tidak 2,5x besar rumahku) dan juga masih memiliki beberapa rumah lagi di komplek perumahan yang lain, 3 buah mobil yang kondisinya cukup terawat, beberapa jenis usaha...perabotan rumah tangga yg jauh lebih mewah dan lengkap dari rumahku...dll.
Pembicaraan kami masih sebatas saling ingin mengenal lebih dalam, tentang pekerjaan, kegiatan sehari2, dan hal2 yang masih sangat umum.
Entah bagaimana pembicaraan kami, tiba2 aku tersentak oleh satu kalimat yang dilontarkan tetanggaku, "Kalau saya sih harus bekerja, karena kalau dirumah saja ga akan cukup seperti ibu (yg dia maksud aku)".
Weits.....apa aku ga salah dengar neh?
Langsung saja aku jawab ," Waduh...kalo saya mengejar istilah "cukup" sebenarnya juga ga cukup,Bu", sambil tersenyum.
Dalam hati aku bertanya, keadaannya sangat jauh berbeda dari aku. Tapi kenapa dia masih merasa belum cukup dibandingkan dengan aku?????
Ingin aku berkata padanya, "Bu, bersyukurlah dengan apa yang anda miliki.Anda sudah memiliki begitu banyak berkat yang orang lain tidak miliki. Apalagi anda membandingkannya dengan saya. Sungguh, seharusnya anda bersyukur."
Tapi semua perkataan itu hanya kusimpan dalam hati.
Sang Juara

Seorang anak kecil berusia 9 th, baru saja turun dari panggung. Dia mengikuti lomba menyanyi untuk kategori anak2. Suaranya sungguh merdu. Tidak sedikit dari antara penonton yang memberikan sambutan meriah, bahkan bertepuk tangan sambil berdiri untuk anak ini. Sebut saja dia Doni.
Setiba di belakang panggung, banyak orang memberi ucapan selamat pada Doni..." Wah, bagus, bagus!!! Penampilanmu keren sekali Don!", kata mereka.
Doni hanya tersenyum lega dan menjawab,"Terima kasih,ya!"
Doni segera berlari ke arah ibunya, yang sedang duduk dengan tegang. Sang ibu hanya terdiam ketika Doni menghampirinya, bahkan tersenyum pun tidak. Tatapan matanya tetap serius ke arah panggung.
Sekarang tibalah saatnya pengumuman pemenang. Dengan hati berdebar2 Doni menunggu, dia sangat cemas. Begitu pula sang ibu. Bahkan saat Doni meminta minum sang ibu berkata, "Nantilah Don..."
Dan ketika dewan juri mengumumkan siapa juara lomba kali ini, ternyata Doni berada di urutan ke 3. Doni berteriak girang. Dia tak menyangka bahwa dia dapat meraih juara ke 3 , padahal lomba kali ini pesertanya sangat banyak, mencapai 100 orang, yang dikirim oleh sekolah-sekolah se-kabupaten. "Yeeee...!!! Hore!! Yess!!..Yess!!", teriak Doni.
Tapi belum terluapkan seluruh kegembiraan Doni, sang ibu langsung membentak Doni, "Hai, ngapain kamu bangga jadi juara 3? Seharusnya kamu dapat juara 1 baru boleh bangga. Apa itu juara 3?? Sama saja bukan juara. Kamu pasti malas-malasan berlatih. Lihat saja, nanti mama tanya sama guru vokalmu, apa kamu itu serius berlatih atau tidak".
Doni langsung terdiam. Dia sangat sedih. Tapi dia tidak dapat berbuat apa2. Ibunya sangat marah.
Pak Budi yang mengetahui hal itu, langsung menghampiri mereka. Beliau adalah kepala sekolah di sekolah Doni. "Bu, Doni selama ini sangat rajin belajar di sekolah. Termasuk dalam hal belajar menyanyi. Suaranya sangat bagus. Mungkin memang anak yang lain lebih bagus suaranya, tapi bukan berarti Doni malas berlatih", kata Pak Budi.
Ibu Doni menjawab, "Bapak tidak tahu, dia sudah 2x tidak datang latihan vokal dengan alasan sedang batuk. Dia pasti terlalu banyak makan gorengan sehingga dia menjadi batuk. atau mungkin itu hanya alasannya saja supaya tidak perlu latihan."
Pak Budi tersenyum, "Bu, yang saya tahu, Doni tidak pernah mau makan gorengan atau es. Setiap kali ditawari temannya, dia akan menolaknya dengan alasan 'nanti dimarahi mamaku'. Sudahlah Bu,Doni sudah melakukan yang terbaik."
Ibu Doni nampak semakin marah dan berkata, " Bagi saya, juara 3 tetap saja bukan juara. Dan saya tidak mengijinkan anak saya ikut lomba antar sekolah lagi." Pak Budi hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan Doni hanya terdiam, tidak berani menjawab,hanya saja air matanya nampak menggenang di sudut matanya..tanpa berani menetes di pipinya.
...........
Hal apa yang dapat kita ambil dr cerita ini? Bagiku, sang ibu ini tidak dapat menghargai usaha si anak. Sesuatu yang nampak luar biasa bagi orang lain (Doni memiliki suara bagus dan memang sudah menampilkan yang terbaik), bagi orang 2 tertentu yang memandang dr sudut berbeda, itu bukan apa2. Tapi apakah tidak lebih baik bila kita terlebih dahulu menghargai setiap usaha yang telah dilakukan, terlepas dr hasilnya baik atau buruk?
Sekaleng susu
Ketika sudah dekat di meja dimana susu itu hrs diletakkan, dia sedikit bingung bagaimana caranya meletakkan kaleng susu itu karena letaknya agak tinggi. Aku berusaha menolongnya..tapi karena tanganku masih penuh..aku segera meletakkan barang bawaanku di atas meja. Tapi belum sampai aku meletakkan barangku...anakku sudah menjatuhkan kaleng susu itu..dan hampir semua susu yang ada di dalamnya tumpah ke lantai.
Waaaaaaaaaaaaa......aku sangat marah. Aku menjerit dan anakku langsung ku bawa menyingkir dari situ sambil aku marahin, "Sudah mami bilang tadi jangan bawa kaleng susu...kamu ga mau dengar. Mami bilang suruh hati2...tapi kamu sudah menjatuhkannya ke lantai. Lihat!! Sekarang semua susu itu tumpah. Kamu mau minum apa hari ini?" Anakku hanya terdiam, menunduk sambil melihat tumpahan susu itu. ...............
Aku menghela nafas panjang. Oh..maafkan mami Nak. Aku sudah menyakitimu.
Aku seharusnya melihat niat baiknya. Toh jika susu itu tumpah sebenarnya bukan salahnya. Dia masih terlalu kecil. Dia hanya ingin membantu, dan dia sebenarnya rajin. Tapi hanya karena niat baik itu terbungkus dalam peristiwa yang tidak diinginkan...niat baik itu jd tidak terlihat.
Apalah artinya sekaleng susu jika dibandingkan dengan niatnya membantu aku? Aku jd merenung....kadang kita pun sering berperilaku seperti itu. Kita tidak bisa melihat niat baik orang lain saat yang terjadi justru hal2 yang buruk.
Semoga aku bisa lebih bijaksana lagi...
Maafkan mami, Nak...
Pantang Menyerah
Awalnya, aku tidak peduli….sampai aku melihat sesuatu yang menurutku ganjil.
Oh Tuhan…Kakinya tidak menapak pada “pancatan” (aku ga tahu apa namanya) sepeda motor. Kakinya hanya menggantung kecil ….kira2 hanya berjarak 40cm dr pangkal pahanya. Diujung kaki itu, dikenakan sebuah sepatu yg bagus..bersih…dan arah sepatu itu terbalik…ujung jari yg seharusnya ke depan…ini justru ke belakang.
Sejenak aku merasa miris. Aku kagum dengan semangat bapak itu. Walau keadaannya seperti itu, dia tetap semangat bekerja. Dia tidak meminta-minta. Dia tidak berpakaian kusut supaya dikasihani, tp justru berpakaian rapi dan bersepatu. Dan dia bekerja sampai semalam ini (pkl 21.30)
Aku terus menatap bapak itu sampai hilang dr pandanganku….
Aku merenung. Adakah aku lebih semangat dr bapak itu? Aku lebih sempurna secara fisik. Lebih banyak hal yg bisa aku lakukan. Tapi sampai seberapa mampu aku mengolah segala yang aku miliki. Sering kali aku memoles diri supaya dikasihani…menempatkan diri sebagai sosok yang menderita..memiliki persoalan hidup terberat…memasang muka masam…dan putus asa untuk berusaha.
Tapi…seorang bapak yang tidak kukenal …malam ini telah mengajar aku … bahwa apapun keadaan diri kita, jgn kita berputus asa. Semua ada jalan…asal kita mau berusaha. Teruslah bersemangat.. Tampilah sebagai orang yang pantas dihargai..bukan dikasihani.
Terima kasih Tuhan…
Hati yang bersih

Suatu kali saya menemukan kutipan indah berikut, “Andai rumah saya sangat bersih dan segala sesuatu tertata rapi, tetapi tak ada kasih di situ, maka saya adalah seorang pembantu, bukan ibu. Andai saya punya waktu untuk mengelap, mengepel, mendekorasi rumah dan seisinya, tetapi tak punya waktu untuk menunjukkan kasih, maka anak-anak hanya belajar tentang kebersihan, bukan kesalehan. Dulu saya pikir keberhasilan seorang ibu dilihat dari bagaimana ia menata rumah. Namun, kini saya tahu bahwa ukurannya adalah pada bagaimana anak-anak belajar tentang kasih.”
Bertumbuhnya seorang pribadi selalu ditopang oleh kehadiran dan dukungan seorang ibu, atau seorang lain yang berperan sebagai ibu baginya. Bagaimana berkata-kata, mengampuni sesama, berbagi serta menunjukkan kasih, juga memercayai Tuhan, kebanyakan dipelajari orang dari ibu. Maka, kiranya perhatian ibu bukan mengatur urusan rumah jasmani saja. Yang jauh lebih penting adalah menata fondasi hidup seorang anak, yang kelak bisa mengubah dunia dengan cara yang menyenangkan Allah.
Rumah bersih tak menjamin hati seketika bersih. Namun ibu penuh kasih terus membentuk hidup penuh kasih
By: agustina W.
Paimin, inspirasi di ujung petang
Beberapa hari ini aku memang cukup sering mampir ke gerobak tenda angkringan milik beliau sepulangku glidig. Tentu saja masih dengan peralatan lengkap perangku; tas ransel butut berisi koran, buku dan laptop dan tas kecil yang nyaris selalu kubawa sebagai tempat mengamankan handphone dan dompet.
Tidak ada alasan khusus aku memilih angkringan milik Pak Paimin ini. Benar-benar mengandalkan intuisi dan dan kata hati saja, mengingat ada puluhan gerobak angkringan yang kulewati dalam belasan kilometer perjalanan pulang ku ke rumah. Dan, tampaknya aku akan menjadi pelanggan setia angkringan Pak Paimin. Disana ada obrolan yang hangat dengan segelas wedang jahe panas kesukaanku, juga kepolosan bicara orang desa yang konon nyaris saja tidak menyelesaikan sekolah dasar kalau saja tidak ada bulik yang membiayai sekolahnya dulu. Alasan lain dan terutama, karena semangatnya yang menyala, kentara sekali dari cerita-ceritanya yang penuh semangat.
Dalam usianya menuju senja, tidak sedikitpun beliau menunjukkan keletihan untuk menjalani hidup yang menurutnya semakin berat saja. Keterbatasan secara fisik tidak pernah mengalahkan semangatnya untuk terus berjuang. "Aku mas.. mbok ya o mung duwe sikil siji, ora gelem kalah karo wong-wong sing wutuh sikile. Dikon macul aku sanggup. Dadi tukang bangunan yo jeh kuat, malah jeh akeh sik njaluk. Dikon menek wit kelopo yo tak tandangi. Wis.. saiki sampeyan ngomong wae aku dikon ngopo? Mesthi iso tak tandangi, Mas", tantangnya.
Aku hanya membalas cerita dan tantangan beliau dengan senyuman penuh kekaguman.
Jujur saja, aku sedikit iri hati melihat sosok laki-laki paruh baya ini. Semangatnya telah mengguratkan warna kemudaan di garis wajahnya. Rambutnya memang telah beruban nyaris seluruhnya, tapi semangatnya tak pernah luntur termakan usia. Sesekali aku merasa ditonjok-tonjok kalau lagi-lagi dia menceritakan cacat fisik yang tak pernah menghalanginya untuk terus berkarya dan berjuang. Tidak sepertiku yang lebih sempurna tetapi terlalu lembek dan mudah menyerah.
Cerita hidup Pak Paimin ini memang sangat berliku. Masa kecilnya sangatlah berat. Lahir dari keluarga yang tidak mampu, beliau telah ikut membantu mencari makan untuk keluarga ketika beliau masuk sekolah dasar. Bapaknya hanya buruh tani, sementara ibunya dirumah mengurusi Paimin kecil dan saudara-saudaranya. Paimin kecil mempunyai 8 saudara. Paimin kecil merupakan anak ke-2 dari sembilan bersaudara.
Dulu, sebelum berangkat sekolah Paimin kecil jarang sekali sarapan. Berbeda dengan anak-anak zaman sekarang, katanya. Kalaupun ada sarapan, dia harus berbagi sarapan itu dengan kakak dan tujuh adik-adiknya. Sepulang sekolah, Paimin kecil tidak langsung kembali ke rumah. Bersama teman-teman dan kakaknya, Paimin kecil langsung bergegas ke hutan atau kemanapun dimana dia bisa mendapatkan sesuatu untuk dimakan.
"Aku paling seneng golek jambu mente, Mas. Sueger tenan yen bali sekolah trus mangan jambu mente. Mengko adhi-adhiku biasane dak gawake gedhang opo telo opo tebu. sak ketemune, Mas. Dadi tekan omah simbok wis ra repot", kisahnya penuh kebanggaan. Dan pengalaman ini pulalah yang kemudian membawanya pada malapetaka.
Suatu siang, seperti biasanya, Paimin kecil bersama kawan dan kakaknya pergi ke hutan mencari makanan. Entah karena mereka datang terlambat atau karena sebab yang lain, mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cari. Tak satupun buah mereka dapatkan. Kemudian mereka sepakat untuk mengambil tebu yang telah tersusun rapi di kereta lori milik pabrik gula madukismo, bantul.
Mereka berlarian mengerjar lori yang segera akan masuk pabrik. Layaknya seorang lelaki kecil yang terlalu bersemangat, Paimin kecil ingin bergelantung pada lori yang berjalan itu. Tangannya telah meraih besi lori. Malangnya, kaki yang seharusnya menumpu justru terpeleset jatuh tepat di atas rel lori. Tak tertolong. Kaki kirinya terlindas kereta lori beberapa kali sampai sang kakak menariknya. Dan, seperti yang kubayangkan, kaki Paimin kecil benar-benar putus tepat di batas lututnya. Paimin kecil hanya bisa menangis sekuatnya menahan sakit yang kepalang waktu itu.
Namun ternyata, pengalaman itu tak meluluhkan semangat hidupnya. Baginya hidup adalah sebuah medan tempur yang harus dimenangkan. "Urip kuwi koyo perang, Mas. Yen ora kendel, ora wani maju, yo.. mati wae. Ra perlu mikir menang po kalah, sik penting slamet sik. iyo to, Mas?"
Lagi-lagi aku serasa tertohok dan lagi-lagi hanya bisa tersenyum, memandangi Pak Paimin penuh kagum. Ku sruput wedang jahe didepanku yang telah mulai menghangat. Pas sekali rasanya, dan pas sekali untuk sejenak mengalihkan pandangku dari tatapan Pak Paimin yang tajam penuh kekuatan.
Sejenak aku mengingat kalau aku juga punya falsafah hidup yang sama tentang perang yang harus dimenangkan. Tapi apalah artinya perangku dibandingkan perang Pak Paimin ini. Aku bukan prajurit yang tangguh ternyata.
Kini, Perjuangan beliaupun belumlah rampung. Membesarkan dan mengentaskan tiga anak menjadi perjuangannya yang aktual kini. Seorang anak perempuannya yang tertua baru saja mendapat pekerjaan sebagai pelayan toko di daerah patangpuluhan yogyakarta. Anaknya yang nomor dua, juga seorang wanita, diberinya modal gerobak dan sejumlah uang untuk membuka angkringan di lokasi berbeda tak jauh dari tempatnya mangkal sekarang ini di daerah brajan, bantul. Sementara anak lelaki terakhirnya baru mengenyam pendidikan SMP kelas 3. Bukanlah pekerjaan yang mudah tentunya untuk beliau.
Pak Paimin hidup ditemani seorang istri yang ternyata adalah istri keduanya. Istri pertamanya meninggal beberapa bulan setelah melahirkan anaknya yang ketiga sekian tahun silam lalu. Bahu-membahu, mereka kini mengabdikan hidup untuk anak-anak mereka.
Pagi hari sampai sore, Pak Paimin bekerja sebagai buruh bangunan atau apa saja yang bisa Beliau kerjakan dan menghasilkan uang. Sementara sang istri mulai membuka warung angkringan pukul 12.00 siang. Menjelang sore selepasnya bekerja, Pak Paimin menggantikan istrinya untuk menjaga angkringan sampai jam 10.00 malam. Benar-benar pejuang tangguh tak mengenal lelah. Liku dan terjal telah beliau alami. Manis dan pahit pun tlah dikecap.
Ah.. serasa terhipnotis. Sudah lebih dari 2 jam aku mangkal di angkringan Beliau. Tentu saja bukan perhentian yang sia-sia, justru penuh makna dan inspirasi. Meski menarik sekali perjumpaan itu, dengan berat hati aku harus berpamit.
Sampun, Pak Paimin. Sekul kalih, sate telur setunggal, gorengan kalih, jahe setunggal.
"Enem setengah", jawabnya.
Kuberikan tujuh ribu, kutinggalkan limaratus sisanya dan aku berpamitan.
Menuju motor aku baru teringat; seandainya bisa kumiliki, ingin kubeli semangat mu itu, Pak Paimin. Terimakasih telah mengingatkan agar selalu bersemangat untuk memenangkan perangku sendiri.
Thanks to: Willy
Sebelum kamu mengeluh
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.
Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam
hidupnya.
Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda.
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman
hidup
Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat
Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya
mandul
Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak
mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yag tinggal di jalanan
Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan
Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka
mempunyai pekerjaan seperti anda
Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa,,,
Kita semua menjawab kepada Tuhan
Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan mengucap syukurlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !
